MENABUR KEJAHATAN, MEMANEN KEADILAN ALLAH

📖 Hakim-Hakim 9:56-57 (FAYH)
“Demikianlah Allah menghukum Abimelekh dan orang-orang dari Sikhem itu atas dosa mereka, karena mereka telah membunuh ketujuh puluh putra Gideon. Kutukan Yotam putra Gideon menjadi kenyataan.”

Setiap tindakan kejahatan yang dilakukan manusia mungkin bisa tersembunyi untuk sementara waktu, namun di hadapan Allah yang Mahaadil, tidak ada satu dosa pun yang luput dari perhitungan-Nya. Kisah tragis Abimelekh dan penduduk Sikhem menjadi pengingat keras bagi kita tentang bagaimana keadilan Tuhan bekerja.

Setelah Gideon wafat, Abimelekh—anak Gideon dari seorang gundik di Sikhem—dikuasai oleh ambisi egois untuk berkuasa. Tanpa ada perselisihan terlebih dahulu, ia mendatangi warga Sikhem dan menghimpun dukungan moral serta finansial. Dari uang kuil penyembahan berhala Baal-Berit, Abimelekh menyewa pemuda-pemuda pembual untuk menyembelih 70 orang saudaranya sendiri di atas satu batu. Hanya Yotam, putra bungsu Gideon, yang berhasil meloloskan diri dan menyerukan perumpamaan serta kutukan atas kejahatan tersebut.

Penduduk Sikhem pun mengesahkan Abimelekh menjadi raja. Namun, persekutuan yang dibangun di atas fondasi darah dan kejahatan tidak akan pernah bertahan lama. Tiga tahun kemudian, Allah mendatangkan roh perpecahan di antara Abimelekh dan warga Sikhem. Persekutuan fasik itu hancur dari dalam: penduduk Sikhem mengkhianati Abimelekh, dan Abimelekh meresponnya dengan membantai seluruh penduduk Sikhem serta membakar menara kota mereka.

Puncak keadilan Allah terjadi ketika Abimelekh menyerang kota Tebes. Saat ia mendekati pintu menara untuk membakarnya, seorang perempuan menjatuhkan batu kilangan atas kepala Abimelekh hingga batu batok kepalanya retak. Karena malu mati di tangan seorang wanita, Abimelekh meminta pembawa senjatanya untuk menikamnya hingga tewas. Akhirnya, baik Abimelekh maupun penduduk Sikhem mati mengenaskan—menuai persis apa yang mereka tabur.

Dari peristiwa ini, kita belajar bahwa keadilan Allah itu nyata. Hukum tabur-tuai bukanlah sekadar hukum alam atau karma, melainkan bentuk intervensi aktif Allah yang menegakkan kebenaran. Manusia bisa merekayasa kejahatan dan menikmati hasilnya untuk sementara, tetapi pada akhirnya, takhta keadilan Tuhan tidak dapat dipermainkan. Oleh karena itu, marilah kita hidup dalam rasa takut akan Tuhan, menjauhi segala bentuk kejahatan dan ambisi serakah, serta konsisten melakukan kebenaran—bukan sekadar agar hidup kita aman di dunia, melainkan karena kita menghormati Allah sebagai Hakim yang Mahaadil.

QUOTES:
Kejahatan bisa bertakhta untuk sementara, tetapi keadilan Tuhan akan selalu memegang kata terakhir.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *