📖 1 Samuel 15:35 (FAYH)
“Sampai matinya, Samuel tidak pernah bertemu lagi dengan Saul, tetapi hatinya terus-menerus bersedih karena Saul. Dan TUHAN menyesal telah menjadikan Saul raja atas Israel.”
Apakah Allah benar-benar bisa menyesal seperti manusia? Tentu tidak. Alkitab sendiri menegaskan di ayat 29 (TB) bahwa Allah Yang Mulia tidak berdusta dan tidak menyesal seperti manusia. Allah itu Mahatahu, sempurna, dan tidak pernah salah dalam rencana-Nya.
Lalu mengapa dikatakan TUHAN menyesal? Ini adalah bahasa antropomorfisme—Allah memakai bahasa manusia agar kita dapat memahami hati-Nya. Kata “menyesal” di sini menggambarkan duka cita Allah yang begitu dalam, kepedihan hati Bapa yang melihat anak yang dikasihi-Nya memilih jalan kebinasaan. Hati Allah hancur melihat Saul.
Saul adalah contoh buruk dari ketaatan yang setengah-setengah. Ia diperintahkan untuk menumpas habis orang Amalek, tetapi ia menyisakan raja Agag dan ternak terbaik dengan alasan untuk dipersembahkan sebagai korban kepada Allah. Di mata manusia, alasannya tampak rohani. Namun, di mata Allah, itu adalah pemberontakan. Saul lebih takut kepada pendapat rakyat daripada kepada suara Tuhan. Ia lebih suka membenarkan diri daripada mengakui kesalahan. Tuhan tidak mencari persembahan kita yang besar, pelayanan kita yang sibuk, atau alasan-alasan rohani kita. Yang Dia cari adalah hati yang tunduk sepenuhnya.
Pelajaran bagi kita hari ini: Jangan melakukan apa yang baik menurut pandangan kita sendiri. Sering kali kita seperti Saul, taat 90% dan menganggap 10% sisanya bisa dinegosiasikan. Kita beribadah pada hari Minggu, tetapi berkompromi dalam pekerjaan dan keuangan pada hari Senin-sabtu. Ingatlah, ketaatan yang sejati bukan soal ritual, melainkan soal hubungan. Ketaatan lahir dari kasih dan kepercayaan bahwa jalan Tuhan adalah yang terbaik, bahkan ketika tidak masuk akal bagi kita.
QUOTE
“Ketaatan setengah-setengah adalah ketidaktaatan yang utuh.”
