📖 Titus 1:16
“Mereka mengaku mengenal Allah, tetapi dengan perbuatan mereka menyangkal Dia. Mereka keji (menjijikkan, Bdeluktoi) dan durhaka (tidak taat, Apeitheis) dan tidak sanggup berbuat sesuatu yang baik (Adokimoi).”
Titus 1:16 adalah sebuah teguran keras yang menembus jantung religiositas kita. Paulus tidak sedang mengkritik orang yang tidak percaya Tuhan, melainkan mereka yang merasa paling mengenal Tuhan namun hidupnya justru menjadi antitesis dari karakter Tuhan itu sendiri. Secara harfiah, kata “mengaku” di sini berarti “mengatakan hal yang sama.” Orang-orang di Kreta ini sangat fasih mengucapkan kredo iman. Mereka bisa berdebat soal doktrin dan hafal hukum-hukum agama. Tapi, Paulus melihat adanya jurang yang dalam antara apa yang keluar dari mulut dengan apa yang keluar dalam perilaku mereka. Dalam konteks teologis, ini adalah peringatan bahwa iman bukan sekedar persetujuan intelektual. Kita bisa setuju bahwa Allah itu ada, tapi kalau hidup kita tidak mencerminkan kedaulatan-Nya, pengakuan itu hanyalah polusi suara di telinga Tuhan.
Kata “menyangkal” (arnountai) dalam bahasa aslinya menunjukkan sebuah penolakan yang tegas. Yang ironis, mereka tidak menyangkal Tuhan lewat khotbah, tapi lewat “tois ergois” (perbuatan-perbuatan mereka). Inilah yang disebut sebagai ATEISME PRAKTIS. Mereka percaya Tuhan di dalam gereja, tapi seolah-olah Tuhan tidak ada saat mereka berbisnis, berbicara, atau memperlakukan sesama. Perbuatan mereka membantah semua kata-kata manis mereka tentang Tuhan.
Bulan Agustus lalu tema bulanan gereja membahas Kenakan Selengkap Senjata Allah . Ada dua senjata Allah diambil dalam Efesus 6:14 yang berkaitan dengan renungan ini yaitu ikat pinggang kebenaran (Yunani aletheia, English truth) dan baju zirah keadilan (Yunani dikaiosune, English righteousness). Apa perbedaan mengenakan ikat pinggang kebenaran dan berbaju zirah keadilan? Atau apa perbedaan antara truth (aletheia) dan righteousness (dikaiosune) tersebut? Aletheia itu ajaran yang diajarkan Tuhan Yesus dan yang Ia contohkan (kenakan) waktu Ia hidup di bumi. Seperti di Yohanes 8:32 dan kamu akan mengetahui kebenaran (aletheia), dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu. Kebenaran (aletheia) di Yohanes 8:32 menunjuk kepada Firman atau Logos pada ayat sebelumnya yaitu Yohanes 8:31. Tuhan Yesus itu Sang Logos menurut Yohanes 1:1. Firman Tuhan itu aletheia.
Sedangkan Dikaiosune artinya kebenaran lebih bersifat praktis yaitu apa yang dipikirkan dan dilakukan makanya dikaiosune bisa berarti: kondisi yang berkenan kepada Allah, integritas, kebaikan, kemurnian hidup, kebenaran dalam pikiran, perasaan dan tindakan. Contoh: Matius 5:6 Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran (dikaiosune), karena mereka akan dipuaskan. Matius 6:33 Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya (dikaiosune), maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu . Aletheia berbicara tentang KEBENARAN yang harus dipercayai. Dikaiosune berbicara tentang KEHIDUPAN BENAR yang harus dijalani.
Itulah sebabnya orang Kristen yang percaya kepada Tuhan Yesus Sang Kebenaran (The Truth) akan hidup sesuai Firman Tuhan dan hidupnya seperti Kristus (memiliki karakter Kristus). Sedangkan Roh Kebenaran akan memimpin orang percaya kepada seluruh kebenaran (truth atau aletheia) agar hidupnya berkenan kepada Allah.
Iman yang sejati tidak bisa dipisahkan dari etika hidup. “Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian.” — (Lukas 13:3). Kata “bertobat” dalam teks asli Yunani adalah μετανοέω (metanoeō), dari dua akar kata: meta = berubah, berpindah; noeō = pola pikir, cara berpikir, sudut pandang. Jadi metanoia bukan sekadar menyesal atau menangis karena dosa, tetapi perubahan pola pikir dan arah hidup yang radikal, yang menghasilkan buah nyata (Lukas 3:8). Pertobatan bukan hanya emosi sesaat, tetapi tindakan berbalik, meninggalkan dosa, menyerahkan kendali hidup, dan berjalan di jalan ketaatan. Dalam banyak realitas gereja modern, pertobatan direduksi menjadi sekadar pengakuan lisan, atau bahkan hanya “doa menerima Tuhan Yesus” tanpa perubahan hidup. Namun Yesus berkata tegas: “Jika kamu tidak bertobat, kamu akan binasa.” Artinya, tanpa pertobatan yang sejati, tidak ada keselamatan.
Banyak orang Kristen mengaku percaya Kristus tetapi hidupnya sama sekali tidak berubah — masih mencintai dosa, masih bergantung pada dunia, masih mempertahankan ego dan ambisi. Mereka tidak dituntut berubah, hanya diminta “percaya”. Tetapi iman tanpa pertobatan bukanlah iman yang menyelamatkan (Yakobus 2:17). Ada dua orang berdosa: satu menangis karena malu tertangkap, yang lain berbalik arah dan meninggalkan dosa. Yang pertama hanya menyesal, yang kedua bertobat. Air mata tidak menjamin keselamatan, tetapi perubahan hati melakukannya. Tanpa pertobatan, iman hanya menjadi ilusi religius. Keselamatan tanpa pertobatan bukan Injil Kristus — itu hanya penipuan rohani.
Jika hidup kita adalah satu-satunya “Alkitab” yang dibaca oleh orang-orang di sekitar kita, apakah mereka akan menemukan Tuhan di sana, atau justru menemukan alasan untuk menjauh dari-Nya? Kekudusan yang sejati tidak ditemukan dalam daftar aturan yang kita patuhi, tapi ditemukan dalam integritas antara pengakuan dan tindakan. Jangan sampai kita menjadi orang yang “sangat beragama” tapi “sangat tidak bertuhan” dalam perilaku. Apakah “Allah” yang kita akui dalam ibadah hari Minggu adalah pribadi yang sama yang memegang kendali atas integritas bisnis, cara kita berbicara di media sosial maupun dalam kehidupan nyata sehari-hari, dan bagaimana kita memperlakukan sesama di hari Senin-Sabtu?
QUOTES:
Keselamatan memang oleh anugerah, bukan perbuatan. Tapi, perbuatan adalah “uji kelayakan” dari iman yang sejati. Tanpa perbuatan baik, pengakuan iman kita hanyalah sebuah adokimos, logam mulia palsu yang tidak berharga di hadapan kekekalan. Tuhan Yesus kiranya menolong kita.
