“RESILIENCE”

Dalam kamus KBBI istilah resiliensi memiliki dua arti penting, pertama bicara tentang ketahanan, kedua bicara tentang penyesuaian diri. Ketahanan, yakni kemampuan seseorang untuk tetap tekun dan sabar ketika menghadapi berbagai tekanan dalam kehidupan. Sedangkan penyesuaian diri, yakni kemampuan seseorang untuk beradaptasi sehingga mampu keluar dengan cepat dari situasi yang sulit sekalipun.

Seorang pakar berkata, keahlian yang harus dimiliki manusia di abad ini bukan sekedar kepintaran (IQ), bukan juga gelar yang banyak, atau relasi yang banyak, melainkan kemampuan seseorang dalam bertahan dan menyesuaikan diri (resilence). Hari ini dunia berubah sangat cepat bahkan tanpa permisi. Perkembangan teknologi termasuk AI memaksa manusia untuk bekerja dan beraktifitas dengan cara yang sangat berbeda sama sekali. Berubah, atau punah sama sekali, itu sederhananya.

Bicara tekanan, yang nyata saat ini yakni persoalan ekonomi. Hal ini sangat terlihat dan dirasakan banyak orang. Mulai dari harga-harga bahan pokok naik, PHK dimana-mana, mencari pekerjaan susah, sampai menurunnya daya beli masyarakat. Di sisi lain biaya hidup dan kebutuhan hidup yang tinggi harus terus berjalan dan tercukupi. Belum lagi persoalan di keluarga, persoalan di kantor, dan persoalan tentang kehidupan pribadi lainnya (sakit penyakit, menantikan jodoh, kerinduan memiliki keturunan, dsb). Semua hal ini dapat mengguncang iman seseorang terhadap Tuhan.

Tuhan tidak diam dengan berbagai tekanan yang sedang dihadapi orang-orang percaya saat ini, Ia peduli bahkan tetap bekerja di tengah-tengah orang percaya (Filipi 4:13). Ia bukan hanya Tuhan di masa lampau, Ia adalah Tuhan di segala musim kehidupan orang percaya, bahkan janji-Nya bahwa Ia menyertai sampai kesudahan zaman (Matius 28:20b).

Di Alkitab setidaknya ada dua tokoh yang bukan hanya bertahan di tengah tekanan, namun tetap melangkah bersama Tuhan. Yang pertama Ayub, yang kedua Paulus. Ayub menghadapi tekanan iman yang tidak mudah, semua hartanya habis, semua anaknya habis, bahkan ia pun mengalami sakit yang sangat parah, isterinya pun tidak mendukung dirinya, namun ia tetap bertahan dalam iman kepada Tuhan. Ketahanan ini bukan datang dari dirinya, melainkan dari Allah sendiri (Ayub 42:5). Ayub sempat ragu akan Tuhan, namun ia kembali bangkit mempercayai Tuhan.

2 Korintus 4:8-9 Rasul Paulus berkata: “Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa; kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa.” Kita bisa melihat perjalanan hidup Paulus yang tidak mudah, berbagai tekanan ia alami, namun ia tetap tekun dan sabar, karena ia tahu ada Tuhan yang menyertai hidupnya. Ia tidak menyerah khususnya ketika memberitakan Injil kepada orang-orang yang belum percaya, sekalipun sangat beresiko namun ia terus meminta hikmat dan kekuatan Allah untuk menuntaskan tugas dan panggilannya.

Dalam hidup sehari-hari termasuk kehidupan rohani, mari jangan mudah menyerah ketika persoalan dan tekanan datang, yakinlah ada kekuatan yang akan terus Tuhan berikan bagi kita yang senantiasa mengandalkan-Nya (Yesaya 41:10).

Quotes
Setiap Tekanan yang Anda Hadapi,
Menghasilkan Iman yang Semakin Bertumbuh di Dalam Kristus.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *