PENYEMBAHAN ATAU RITUAL?

📖 Yohanes 4:21
Kata Yesus kepadanya: “Percayalah kepada-Ku, hai perempuan, saatnya akan tiba, bahwa kamu akan menyembah Bapa bukan di gunung ini dan bukan juga di Yerusalem.”


📖 Yohanes 4:23
“Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian.”

Saya percaya anda pernah membaca Yohanes 4:23, tapi jarang membahas ayat 21 tersebut. Yesus menyatakan bahwa waktunya akan tiba di mana manusia tidak lagi menyembah Bapa secara khusus di gunung Gerizim (orang Samaria) atau di Yerusalem (orang Yahudi). Gunung Gerizim adalah tempat suci bagi orang Samaria (Ulangan 11:29), yang bertentangan dengan keyakinan orang Yahudi tentang Yerusalem sebagai tempat ibadah yang benar (Yohanes 4:20). Namun, Yesus menyatakan bahwa waktunya telah tiba ketika ibadah dan penyembahan bukan lagi soal tempat tertentu, melainkan tentang Pribadi yang disembah: “Penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran” (Yohanes 4:23). Penyembahan yang benar kepada Allah tidak lagi dibatasi oleh tempat fisik atau ritual lahiriah, melainkan berpusat pada hubungan rohani yang dipimpin oleh Roh Kudus dan kebenaran di dalam Kristus. Kita bisa melihat perbandingan dan perubahan MINDSET antara ayat 21 dengan ayat 23 dari Yohanes 4 tadi. Ayat 21 adalah Penyembahan berdasarkan RITUAL (jasmaniah), sedangkan ayat 23 adalah Penyembahan berdasarkan HUBUNGAN (batiniah). Artinya ketika hidup PERIBADAHAN kita sudah pada tahap HUBUNGAN, maka kita akan lebih memperhatikan batiniah yang akan terefleksi secara otomatis pada jasmaniah.

Satu ayat yang sangat kita kenal mengenai HUBUNGAN ini adalah Roma 12:1 “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.” Ini adalah perubahan di dalam dan tidak terlihat secara kasat mata, yaitu kita berkomitmen pribadi dengan Tuhan. Sedangkan ritual hanya diperlukan untuk terjadinya KETERATURAN dalam acara bersama; dan ritual adalah BUATAN MANUSIA. Ritual yang benar harus dihasilkan dari hubungan yang benar dengan Sang Firman. Ketika RITUAL menjadi LEBIH PENTING dari HUBUNGAN, itu sama seperti HAL JASMANI lebih penting dari ROHANI, artinya bahwa PANDANGAN ORANG LAIN terhadap ibadah kita lebih penting dibandingkan PANDANGAN TUHAN terhadap ibadah kita.

Seringkali saya melihat, membaca dan mendengar ketika membahas tentang WORSHIP alias PENYEMBAHAN, akan dikaitkan dengan RITUAL musik dan nyanyian, juga suasana acara pertemuan jemaat. Ketika saya membaca Roma 12:1 dan menggali kata IBADAH YANG SEJATI, kata ibadah menggunakan bahasa Yunani LATREIA yang artinya PELAYANAN, dan dalam kaitan dengan Tuhan maka pelayanan tersebut bisa berarti WORSHIP. Sedangkan kata sejati menggunakan kata Yunani LOGIKOS. Mungkin anda pernah mendengar kata logika, berasal dari kata yang sama yaitu LOGIKOS. LOGIKOS berarti reasonable atau masuk akal, sesuai dengan PERUNTUKANNYA.

Jadi Roma 12:1 bisa saya interpretasikan bahwa PENYEMBAHAN UNTUK TUHAN adalah dengan cara mempersembahkan tubuh kita sebagai persembahan yang kudus dan berkenan kepada Allah. Ini adalah model penyembahan UNTUK KEPENTINGAN TUHAN. Ada penyembahan untuk Tuhan, berarti ada penyembahan untuk kepentingan manusia. Bagaimana penyembahan untuk kepentingan manusia? Itu adalah penyembahan yang mementingkan RITUAL dibandingkan HUBUNGAN. Ritual adalah istilah umum yang merujuk kepada rangkaian kegiatan berupa gerakan, nyanyian, doa, dan bacaan, menggunakan perlengkapan, baik dilakukan secara sendirian maupun bersama-sama, dipimpin oleh seseorang [sumber: Wikipedia]. Menurut saya, Ritual adalah kegiatan buatan manusia yang MENGASUMSIKAN cara Tuhan ingin disembah, supaya bisa mengakomodir kepentingan manusia.

Menyembah itu bukan menyanyi, menyembah itu bukan bermazmur, menyembah adalah bentuk pengakuan dan penaklukan diri kepada siapa yang kita sembah. Ketika kita menyembah Tuhan, artinya kita sedang mengakui bahwa Dia Tuhan dengan cara mentaati Perintah-perintah-Nya. Menyanyi lagu rohani, bermazmur, berlutut, tersungkur hanyalah cara kita mengatakan I love You kepada Dia yang kita sembah. Bila kita menyanyi, bermazmur, berlutut, tersungkur, namun tanpa ketaatan kepada Firman-Nya, itu sama saja kita sedang berkata I love You kepada kekasih kita, tapi tidak disertai perbuatan yang membuktikan bahwa kita mencintai dia, hanya INDAH DI BIBIR SAJA.

Sama seperti kita sedang ber-KARAOKE sambil goyang dombret. Banyak orang yang belum bisa membedakan antara menyembah dengan menyanyi. Misalnya dengan mengatakan bahwa penyembahannya enggak ngangkat. Padahal menyanyi itu hanyalah cara penyampaian saja. Mungkin maksudnya harus nyanyi sambil digendong biar ngangkat gitu? Kemudian cara main musiknya dikritik katanya enggak ngeflow. Mungkin maksudnya berendam di sungai sambil main musik biar ngeflow? Konsep penyembahan mereka tersebut hanyalah lahiriah semata. Daud melakukan pujian untuk Tuhan secara jasmaniah itu bersumber dari manusia rohaniah yang mentaati perintah-Nya. Itu gaya hidup Daud yang sebenarnya, fokus kepada pengenalan akan Tuhan dan cintanya dia ekspresikan melalui nyanyian dan tarian.

QUOTES:
Penyembahan adalah suatu tindakan ketaatan kepada Firman Tuhan sebagai bentuk penaklukan diri di dalam cinta kepada Tuhan. Nyanyian pengagungan yang kita naikkan adalah salah satu cara kita mengekspresikan cinta dan ketaatan kepada Tuhan. Bernyanyi untuk Tuhan tanpa ketaatan kepada Firman-Nya hanyalah sebatas karaoke, yang fungsinya untuk menghibur diri sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *