FILOSOFI ANGKLUNG DALAM HIDUP BERJEMAAT

📖 I Korintus 12:18,20
“Tetapi Allah telah memberikan kepada anggota, masing-masing secara khusus, suatu tempat pada tubuh, seperti yang dikehendaki-Nya… Memang ada banyak anggota, tetapi hanya satu tubuh.”

Di gereja kami ada wadah pelayanan angklung yang diikuti oleh bapak-bapak dan ibu-ibu – yang umumnya sudah lanjut usia. Perpaduan nada yang harmonis dalam permainan angklung ini ternyata bukan hanya enak didengar, tetapi – jika kita mencermatinya – kita juga dapat menemukan filosofi dan prinsip-prinsip yang bisa diterapkan dalam kehidupan berjemaat.

Harmoni yang indah dari permainan angklung tersebut hanya dapat terjadi apabila:
Pertama, Setiap pemegang nada angklung tersebut menyadari peran masing-masing dan tidak merasa nadanya paling penting atau menonjol. Bayangkan jika pemain angklung hanya memainkan satu nada saja, atau hanya angklung nada G saja ingin terus dibunyikan sepanjang lagu, tentunya tidak akan indah di dengar dan akan mengganggu harmoni dari lagu yang dimainkan. Hal yang sama juga terjadi dalam kehidupan berjemaat, setiap anggota jemaat – apapun jabatannya – harus memiliki kesadaran bahwa kita memiliki peran atau tugas masing-masing dalam gereja. Tidak boleh ada yang merasa lebih penting atau malah merasa tidak berarti. Sekecil apapun peran kita, kita semua dipanggil untuk terlibat dalam pembangunan tubuh Kristus dan menjadi semakin serupa dengan Kristus.

Kedua, taat kepada dirigen (konduktor) dan partitur yang dimainkan. Sebuah permainan angklung biasanya dipimpin oleh seorang konduktor yang akan mengarahkan para pemain sehingga menghasilkan komposisi nada yang harmonis mengikuti partitur atau notasi musik yang dibuat oleh seorang arranger atau penata musik. Jika setiap pemain angklung bermain semaunya sendiri tentu tidak akan ada harmoni dari nada-nada yang dihasilkan tersebut.

Demikian pula dalam kehidupan berjemaat. Setiap kita bukan hanya menyadari adanya peran yang Tuhan tetapkan, tetapi kita juga harus belajar mentaati rencana-rencana, arahan yang diberikan oleh para pemimpin dan terlebih kita semua harus taat pada perintah dan kehendak Tuhan dalam diri kita masing-masing. Apabila dalam kehidupan berjemaat kita mau mengikuti arahan – baik dari pemimpin rohani, terlebih dari Tuhan Yesus sendiri – untuk kebaikan bersama, maka pastilah ada keharmonisan dalam pembangunan tubuh Kristus.

Hal ini ditegaskan oleh Rasul Paulus dalam 1 Korintus 12, bahwa kita masing-masing adalah anggota tubuh Kristus yang memiliki peran masing-masing, tetapi semua anggota itu harus mengikuti perintah dari Sang Kepala yaitu Tuhan Yesus. Sama seperti perpaduan nada dalam permainan angklung menghasilkan harmonisasi yang indah, demikian juga seharusnya setiap kita yang berada dalam gereja yang adalah keluarga Allah.

QUOTE:
Mari kita menyadari panggilan kita masing-masing dalam kehidupan berjemaat dan mulai bersinergi agar setiap kita bersama-sama bertumbuh dalam keserupaan dengan Kristus.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *