KETIKA YESUS BERHENTI

📖 Markus 5:34
“Hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau. Pergilah dengan selamat dan sembuhlah dari penyakitmu!”

Ada kalanya yang paling menyakitkan dalam hidup bukanlah penyakit atau kesulitan yang kita alami, melainkan cara orang lain memandang kita. Satu kegagalan bisa menjadi label seumur hidup. Satu dosa di masa lalu terus diingat, sekalipun kita telah bertobat. Sedikit demi sedikit, kita mulai percaya bahwa diri kita tidak lagi berharga. Kita hidup di bawah bayang-bayang rasa malu.

Mungkin itulah yang dirasakan perempuan yang diceritakan dalam Markus 5. Selama dua belas tahun ia menderita pendarahan. Dua belas tahun bukan waktu yang singkat. Selama itu pula ia menghabiskan hartanya untuk mencari kesembuhan, tetapi keadaannya justru semakin memburuk. Menurut hukum Taurat, ia juga dianggap najis (Imamat 15:25-27). Akibatnya, ia bukan hanya bergumul dengan penyakit, tetapi juga dengan penolakan. Ia tidak bebas bergaul seperti orang lain. Ia hidup dengan perasaan bahwa dirinya selalu berbeda, selalu menjadi orang yang harus menjaga jarak.

Yang menarik, Markus menceritakan kisah ini ketika Yesus sedang dalam perjalanan menuju rumah Yairus. Anak Yairus sedang sekarat. Secara manusia, semua orang tentu berharap Yesus segera tiba. Setiap detik terasa begitu penting. Namun justru di tengah perjalanan itu Yesus berhenti. Mengapa? Karena di mata Yesus, perempuan itu bukan sekadar seseorang yang membutuhkan kesembuhan. Ia adalah pribadi yang telah terlalu lama hidup tanpa merasakan penerimaan. Perempuan itu sebenarnya berharap dapat datang dan pergi tanpa diketahui siapa pun. Ia hanya ingin menyentuh jubah Yesus, sembuh, lalu menghilang kembali di tengah keramaian. Namun Yesus tidak membiarkannya pulang seperti itu. Ia memanggil perempuan itu untuk berdiri di hadapan-Nya.

Sekilas, tindakan Yesus mungkin terasa aneh. Bukankah itu justru membuat perempuan itu semakin malu? Tetapi ketika kita melihat lebih dalam, kita menemukan kasih Yesus yang begitu indah. Selama bertahun-tahun perempuan itu hidup di bawah pandangan orang-orang yang menganggapnya najis. Karena itu, Yesus tidak hanya menyembuhkan tubuhnya. Ia juga memulihkan martabatnya di hadapan orang banyak. Lalu Yesus mengucapkan sebuah sapaan yang begitu lembut, “Hai anak-Ku.” Bayangkan betapa hangatnya sapaan itu. Selama dua belas tahun orang mengenalnya karena penyakitnya. Hari itu Yesus tidak menyebut penyakitnya. Yesus tidak mengingat masa lalunya. Yesus memanggilnya sebagai anak. Dalam satu sapaan sederhana, Yesus mengangkat kembali harga dirinya yang telah lama hancur.

Kalau kita renungkan, bukankah kisah ini masih sangat dekat dengan kehidupan kita? Kita hidup di tengah budaya yang sangat menjaga nama baik. Tidak jarang seseorang terus diingat karena kegagalannya. Ada yang dikenal sebagai orang yang pernah bangkrut. Ada yang terus dibayangi dosa masa lalunya. Ada yang sulit diterima kembali setelah melakukan kesalahan. Bahkan di dalam gereja, tanpa sadar kita bisa lebih mudah mengingat luka seseorang daripada melihat karya anugerah Tuhan dalam hidupnya. Namun Yesus mengajarkan cara pandang yang berbeda. Ia melihat lebih dalam daripada reputasi. Ia melihat hati yang datang mencari-Nya. Ia tidak membiarkan masa lalu menjadi identitas terakhir seseorang. Apa yang telah dipulihkan oleh kasih karunia-Nya tidak boleh terus dirusak oleh stigma manusia.

Mungkin hari ini Anda sedang membawa beban yang tidak diketahui orang lain. Mungkin Anda masih menyimpan rasa malu karena kegagalan, dosa, atau masa lalu yang terus menghantui hati. Dengarlah kembali sapaan Yesus kepada perempuan itu. Sapaan itu juga mengingatkan kita bahwa di dalam Kristus, kita tidak ditentukan oleh masa lalu kita, tetapi oleh kasih-Nya yang memulihkan. Dan mungkin hari ini kita bukanlah perempuan itu. Mungkin justru tanpa sadar kita menjadi bagian dari kerumunan yang masih memberi label kepada orang lain. Jika demikian, marilah kita belajar melihat sesama seperti Yesus melihat mereka. Sebab gereja dipanggil bukan menjadi tempat yang memperpanjang rasa malu seseorang, melainkan menjadi tempat di mana kasih karunia Allah memulihkan hidup dan mengembalikan harapan.

Kiranya setiap orang yang datang kepada Kristus menemukan apa yang ditemukan perempuan itu pada hari itu: bukan hanya kesembuhan, tetapi juga kepastian bahwa ia dikasihi, diterima, dan dihargai oleh Tuhan. 

QUOTES
Ketika Tuhan telah memanggil seseorang sebagai milik-Nya, tidak ada lagi label manusia yang lebih berkuasa daripada kasih karunia-Nya. Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *