KETELADANAN KASIH SUAMI MENURUT EFESUS 5:22-33

📖 Efesus 5:22
“Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan.”

Anda pasti pernah mendengar pembahasan mengenai ayat Efesus 5:22 yang sering dipakai untuk menyudutkan kaum isteri, bahkan ayat ini sering dipakai oleh kaum suami untuk mengintimidasi isteri mereka. Efesus 5:22 (TB) Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan. Pertanyaan mendasar dari ayat ini adalah TUHAN YANG MANA YANG DIMAKSUDKAN RASUL PAULUS? Apakah itu tuhan/dewa perang Yunani: Ares? Atau dewa perang Romawi: Mars? Atau Paulus mengacu pada Tuhan Yesus Kristus? Kalau kita baca secara lengkap Efesus 5:22-33, maka kita akan menemukan bahwa ayat perintah untuk isteri itu ada 3 ayat (22-24), sedangkan untuk suami ada 9 ayat (25-33). Apa artinya?

Bila Tuhan yang dimaksud mengacu kepada Yesus Kristus dan isteri sebagai jemaat, maka ada satu pertanyaan penting yaitu SIAPA YANG LEBIH DULU MELAKUKAN? Apakah jemaat yang lebih dulu melakukan untuk Yesus atau Yesus yang lebih dulu melakukan untuk jemaat? Dalam hal ini tentu konteks utamanya adalah KERELAAN di dalam mengasihi; karena apabila terpaksa maka sudah bukan kasih lagi, tapi perbudakan. Bagaimana seorang isteri bisa rela tunduk kepada suaminya? Yaitu ketika dia tahu bahwa apa yang diperintahkan sang suami kepadanya itu karena suami mengasihi dia dan untuk kebaikannya, bukan untuk mengambil keuntungan darinya. Bagaimana isteri bisa tahu suaminya mengasihi dia? Karena dia melihat dan merasakan bagaimana sang suami SUDAH BERKORBAN untuknya, sebagaimana Kristus sudah berkorban untuk jemaat.

Kita sering mendengar frasa PENOLONG YANG SEPADAN. Disini saya mencoba menggambarkan maksud dari frasa PENOLONG YANG SEPADAN. Dan ini khusus untuk para ISTERI atau yang bermaksud menjadi isteri dari seorang pria. Ada banyak yang salah kaprah mengartikan penolong yang sepadan, seolah isteri bisa MENGGANTIKAN kodrat dari suaminya dengan alasan untuk MENOLONG. Padahal sebenarnya tanpa sadar dia bukanlah menolong, tetapi malah menjerumuskan suami ke lubang yang lebih dalam. SUAMI adalah pintu perlindungan bagi rumah tangga, ketika pintu itu tidak terkunci atau terbuka, maka ada potensi ancaman bahaya dari eksternal. Apa yg membuat pintu itu tetap tertutup? Karena ada orang yang menutupnya dan menguncinya, sehingga pintu itu tidak bisa dibuka dari luar. ISTERI adalah orang yang membuat pintu itu tetap tertutup untuk melaksanakan fungsinya sebagai pelindung; isteri juga yang bertugas mengunci pintu itu. Dengan apa isteri melakukannya?

Dengan AGAPE SUAMINYA, dengan isteri memberi dukungan kepada suami sehingga dia bisa menjalankan fungsinya dgn benar, dan bukan menggantikan fungsi menjadi pintu atau bahkan merasa lebih hebat dari suami sehingga suami berdiri di luar pintu. Ironisnya di penghujung akhir jaman ini, ada yang mau menghancurkan tatanan hirarki tersebut dengan dalih KESETARAAN GENDER yang dinamakan FEMINISME. Mereka tidak menyadari bahwa KESETARAAN itu sebenarnya adalah rancangan Tuhan sejak semula yaitu dengan menciptakan Hawa BERDAMPINGAN dengan Adam, dan menjadikan Hawa sebagai penolong yang sepadan. Namun hal ini tidak disadari bahkan isteri berusaha untuk menggantikan peran suami dan bukan sebagai PENDUKUNG kodrat suami. Banyak isteri berusaha MEMINDAHKAN kodrat suami. Ini adalah TINDAKAN BUNUH DIRI, bukan hanya untuk dirinya, tapi akan berdampak kepada seluruh keluarganya.

Cukup lama saya merenungkan Markus 10:9 “Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.” Banyak yang bertanya apa maksudnya DIPERSATUKAN ALLAH? Apakah lokasinya alias kalau nikah di gereja artinya dipersatukan Allah? Atau apakah penumpangan tangan oleh pendeta yang memberkati pernikahan artinya dipersatukan Allah? Sampai akhirnya saya menemukan ayat berikut ini: 1 Yohanes 4:8 (TB): “Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab ALLAH adalah KASIH”. Kata mengasihi menggunakan AGAPAO (verb), sedangkan kata kasih menggunakan AGAPE (noun). Jadi Markus 10:9 bisa dituliskan: Karena itu, apa yang dipersatukan oleh Agape, tidak boleh diceraikan manusia. Nah kapan kita dipersatukan Agape? PADA SAAT KITA MENGUCAPKAN JANJI NIKAH!!! Berikut saya berikan sedikit kutipan JANJI NIKAH SUAMI tersebut: Saya [nama] hari ini mengambil engkau [nama] sebagai isteri saya satu-satunya, dan hari ini di hadapan Tuhan, disaksikan oleh hamba Tuhan, keluarga dan segenap jemaat, saya mengucapkan PERJANJIAN AGAPE ini: Saya berjanji untuk mengasihi engkau sebagaimana Kristus mengasihi jemaat-Nya. Saya berjanji untuk setia menemani engkau dalam setiap musim kehidupanmu. Saya berjanji menjaga dan menaungi engkau dengan segenap kekuatan saya, dst..dst..dst.

Jadi hirarki dalam keluarga bukan mengenai HAK dan KEWAJIBAN, tetapi mengenai KETELADANAN, yaitu skala prioritas dalam memberikan keteladanan suami dalam mengasihi. Bagaimana bila suami belum kenal Kebenaran? Isteri bisa “menggantikan” suami dalam memberikan KETELADANAN KASIH, demikian juga dengan anak-anak, karena puncak tertinggi keteladanan adalah Yesus Kristus.

KESIMPULAN:
Efesus 5:22-33 tidak bicara tentang Hirarki Perbudakan, tapi KETELADANAN KASIH yang ditunjukkan suami.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *