I Samuel 15:22 (TB)
Tetapi jawab Samuel: “Apakah TUHAN itu berkenan kepada korban bakaran dan korban sembelihan sama seperti kepada mendengarkan suara TUHAN? Sesungguhnya, mendengarkan lebih baik dari pada korban sembelihan, memperhatikan lebih baik dari pada lemak domba-domba jantan.”
Saul adalah raja yang dipilih dan diurapi Tuhan. Ia bukan orang luar dari rencana Allah. Roh Tuhan pernah turun atasnya, ia memimpin bangsa, ia menjadi alat kemenangan bagi Israel. Namun pada akhirnya, Tuhan menyatakan bahwa Ia menolak Saul sebagai raja (1 Samuel 15:26). Di sinilah kita melihat satu kenyataan yang serius: seseorang bisa dipakai Tuhan, tetapi tidak hidup dalam perkenanan-Nya. Aktivitas berjalan, jabatan tetap ada, pelayanan terlihat, tetapi hati perlahan menjauh dari kehendak Tuhan.
Masalah Saul sebenarnya karena ia berhenti taat dalam sepenuh hati kepada Tuhan. Ia mulai lebih takut kehilangan jabatan daripada kehilangan ketaatan kepada Tuhan. Ia masih berbicara tentang Tuhan, masih mempersembahkan korban, tetapi ketaatannya menjadi parsial. “Taat lebih baik daripada korban” (1 Samuel 15:22). Tuhan tidak terutama mencari keberhasilan lahiriah, melainkan hati yang tunduk dan rela diatur oleh firman-Nya.
Renungan ini bukan untuk membuat kita takut, melainkan sadar. Kita bisa aktif melayani, memimpin, bahkan memberikan persembahan yang banyak, tetapi pertanyaannya tetap sama: apakah hati kita masih berkenan di hadapan Tuhan? Ataukah kita mulai membenarkan diri? Ketaatan tidak diukur dari seberapa sibuk kita bagi Tuhan, tetapi seberapa dalam kita mau tunduk kepada-Nya.
Hari ini Tuhan memanggil kita bukan hanya untuk dipakai, tetapi untuk berkenan di hadapan-Nya. Ia tidak mencari kesempurnaan tanpa cela, tetapi hati yang mau tunduk. Kiranya kita bukan hanya menjadi alat di tangan Tuhan, tetapi anak-anak yang hidup dalam ketaatan dan perkenanan-Nya.
Quotes: Lebih Berbahaya Kehilangan Kepekaan daripada Kehilangan Posisi
