HARAPAN MURNI

Setiap orang pasti memiliki sebuah harapan dan pasti harapan itu adalah sesuatu yang diharapkan membuat kita mengalami sebuah kemapanan secara ekonomi. Kemapanan ekonomi itu selalu dianggap sebagai salah satu tolak ukur manusia di dunia ini. Status sosial seseorang di tentukan oleh kemapanan ekonominya. Oleh sebab itu dunia sekarang ini mengejar Hedonisme. Kalau dalam istilah ekonomi: semakin besar penghasilan dan tingginya jabatan seseorang, itu menunjukkan sebuah aktualisasi diri yang tinggi. Yang menjadi masalah dalam kehidupan seseorang adalah: apa yang kita lakukan untuk mencapai semua harapan di atas? Cara yang dilakukan apakah sesuai dengan titah Tuhan dalam Alkitab? Atau kita masih menggunakan jalan dunia yang kotor dengan cara politik negatif, memanfaatkan orang-orang yang bekerja di lingkungan kita demi sebuah popularitas atau kedudukan dan kemapanan yang diharapkan? 

Sebagai contoh: ada seorang yang memiliki kedudukan yang lebih tinggi bertindak ‘memanfaatkan’ anak buahnya. Ia ‘mengejar’ para anak buahnya untuk mengerjakan banyak hal, tetapi akhirnya ini untuk nama dia-supaya dihargai oleh pimpinan di atasnya. Kalau terjadi kesalahan, dengan mudahnya dia akan menyalahkan anak buah di depan pimpinannya. Banyak contoh lain yang dilakukan oleh orang-orang yang mengejar jabatan dan kemapanan ekonomi. Di dunia kerja banyak sekali kekotoran yang dilakukan demi sebuah ambisi pribadi. Di dalam kehidupan pribadi dengan Tuhan juga banyak orang yang mengaku sebagai seorang Kristen, masih memiliki tujuan yang bukan untuk Tuhan tapi untuk kepentingan pribadinya. 

Kalau kita diberikan waktu untuk merenungkan: “Tujuan kita mau dekat, melayani, berdoa, dan ikut Tuhan itu untuk kepentingan diri kita atau untuk kepentingan Tuhan Yesus?”

Pertanyaan ini sulit untuk dijawab, perlu kemurniaan hati kita. Ciri orang yang berfokus untuk diri sendiri: Ibadah hanya untuk keuntungan pribadinya saja. Datang kepada Tuhan hanya saat butuh berkat, jabatan, uang, perlindungan, atau ingin keinginannya dikabulkan.

Suka terlihat rohani di depan orang, ingin dipuji sebagai orang baik, suci, atau paling dekat dengan Tuhan. Suka menghakimi dan merasa paling benar; mudah merendahkan orang lain yang dianggap lebih berdosa atau kurang rohani. Memakai nama Tuhan untuk kepentingan sendiri, memanipulasi orang, mencari pengaruh, keuntungan materi, atau pembenaran diri. Tidak mau berubah karakternya. 

Rajin aktivitas rohani tetapi tetap hidup dalam kebencian, kesombongan, iri hati, atau hawa nafsu tanpa pertobatan.

Hubungan dengan Tuhan menjadi transaksional. Lebih mencintai dunia daripada Tuhan. 

Ciri orang yang berfokus pada keinginan Roh: ada pertobatan dan kesadaran diri. Keinginan daging tidak lagi memimpin hidupnya. Hidupnya menghasilkan “buah Roh,” seperti yang tertulis dalam Galatia 5:22–23, disebutkan: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan dan penguasaan diri. Penguasaan diri menjadi tanda penting.

Lebih mengejar kehendak Tuhan daripada kepuasan sesaat. Tetap berjuang walaupun belum sempurna. Ada pergumulan dan keinginan untuk berubah. Suka berdoa dan membaca firman serta melakukannya. 

Dari artikel ini kita bisa merenungkan bagaimana dengan kondisi kita saat ini ?

Filipi 3:20-21: “Karena kewargaan kita adalah di dalam sorga, dan dari situ juga kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat…”

Hidup kita bukan mencapai keberhasilan dunia tetapi keberhasilan setelah kematian. Kita jangan mengejar kesuksesan dunia tapi kejar kesuksesan hidup dalam alam kekekalan sebagai anak Tuhan yang sudah menerima Tuhan Yesus sebagai juruselamat pribadi. Kejar perkara-perkara rohani sehingga hidup kita ada dalam Kerajaan surga. Yuk kita coba balikkan pola pikir kita: iblis membawa fokus pada dunia, tapi kita ubah pola pikir kita pada pola pikir Kristus dalam hidup kita. Untuk melakukan hal ini tidak mudah, tapi butuh sebuah effort yang sangat besar. Kita harus menyerang keinginan daging dan berfokus pada keinginan Roh. Galatia 5:16-17: “Maksudku ialah: hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging. Sebab keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging — karena keduanya bertentangan — sehingga kamu setiap kali tidak melakukan apa yang kamu kehendaki.”

Sebagai akhir dari bacaan ini, yuk kita kejar kehidupan rohani kita dan kita terus beri makan manusia rohani kita dengan cara: hidup dalam hubungan dengan Tuhan; memuliakan Tuhan melalui kehidupan sehari-hari; mengasihi sesama, dan akhirnya menerima hidup kekal bersama-Nya.

Quotes:
Pengharapan Murni Anak-anak Tuhan Bukanlah Mengejar Hal-hal Kedagingan, Melainkan Hal-hal Rohani yang Membawa pada Keselamatan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *