Yohanes 13:2
“Mereka sedang makan bersama, dan Iblis telah membisikkan rencana dalam hati Yudas Iskariot, anak Simon, untuk mengkhianati Dia.”
Ada satu realitas yang sering tidak kita sadari, bahwa seseorang bisa duduk sangat dekat dengan Kristus, mendengar setiap kata-Nya, bahkan seperti Yudas ikut makan bersama dengan Yesus Kristus, ikut melayani bersama-sama dengan Yesus Kristus dan murid lainnya, namun tetap tidak mengalami perubahan hati (bdk. Mat 7:21–23). Menurut Thomas Goodwin (1600–1680), mendengar Injil tidak pernah cukup untuk membuktikan keselamatan. Yang menentukan adalah bagaimana hati meresponsnya. Banyak orang terbiasa dengan kebenaran (mendengar pengajaran tanpa respon yang benar) sampai kebenaran itu tidak lagi dapat mengguncang batin mereka (2 Tim. 4:3–4). Firman yang seharusnya menusuk, menegur, dan merendahkan ego justru menjadi sekadar informasi yang lewat begitu saja (Ibr 4:12; Yak 1:22–24).
Inilah bahaya terbesar dalam kehidupan rohani yaitu ilusi kedekatan dengan Tuhan. Seseorang bisa aktif dalam ibadah, paham doktrin, bahkan enjoy diskusi teologi, tapi tetap asing terhadap pertobatan sejati. Yudas adalah contoh paling tragis, ia hidup bersama Kristus, mendengar langsung ajaran-Nya, menyaksikan mujizat, tetapi hatinya tidak pernah benar-benar tunduk. Ini menjadi peringatan keras bahwa kedekatan secara lahiriah dengan hal-hal rohani tidak pernah menjamin perubahan batiniah. Injil yang sejati tidak hanya memberikan penghiburan/kelegaan, tetapi menghancurkan kesombongan dan memaksa manusia berbalik dari dosanya.
Jadi, apakah firman itu masih mengganggu “comfort zone” kita? Apakah ada dosa yang benar-benar kita tinggalkan, atau kita hanya menjadi pendengar yang menikmati tanpa berubah? Menurut Goodwin, pekerjaan Roh Kudus itu selalu nyata, bukan sekadar emosi sesaat, melainkan transformasi yang terus berlangsung (2 Kor 3:18; Gal 5:22–24). Jika tidak ada perubahan, maka ada dua kemungkinan: kita menolak pekerjaan itu, atau kita tidak pernah benar-benar menerimanya (Kisah 7:51).
Kita mungkin sering mencerca nama Yudas Iskariot dan melabelinya dengan kata pengkhianat. Saya ajak kita merenungkan kesamaan Yudas Iskariot dengan kita sebagai gereja. Yudas Iskariot adalah seorang bendahara yang dipercaya untuk mengatur keuangan dari pelayanan Yesus dan murid murid-Nya. Namun Yudas Iskariot adalah seorang pencuri atau lebih tepatnya koruptor yang mengkorupsi dana pelayanan. Yohanes 12:6 memperjelas motivasi Yudas: “Ia seorang pencuri.”
Kata Yunani κλέπτης (kleptēs) menunjuk pada pencuri yang hidup dari apa yang bukan miliknya. Gereja juga adalah bendahara yang dipercaya untuk mengatur keuangan demi berjalanannya penyebaran Injil dan untuk membantu banyak orang. Yudas Iskariot menyesal dan mengembalikan uang 30 keping perak lalu sayangnya dia pergi menggantung diri (Matius 27:3-5). Sementara gereja tidak menyesal (karena tidak merasa bersalah), namun pada akhirnya berpotensi menggenapi Matius 7:22-23. Yudas Iskariot masih memandang Yesus yang asli, sehingga dia menyesali perbuatannya. Sementara gereja tidak menyesali perbuatannya karena gereja sudah menciptakan yesus yang lain atas dasar imajinasi Eisegesis mereka terhadap Alkitab.
Bagi Yudas, Yesus hanyalah seorang tokoh inspiratif, seorang revolusioner, atau sumber ilmu. Ia mengagumi kharisma Yesus, tetapi ia tidak pernah tunduk pada otoritas-Nya sebagai Tuhan.
Yudas menganggap Yesus sebagai sarana untuk mencapai tujuannya (mungkin secara politis atau finansial), bukan sebagai tujuan hidupnya itu sendiri. Yudas adalah contoh nyata bahwa seseorang bisa sangat dekat dengan kebenaran tanpa pernah dikuasai oleh kebenaran itu.
Pada akhirnya, perbedaan antara iman yang sejati dan yang semu tidak terletak pada akses terhadap kebenaran, melainkan pada respons terhadapnya. Sebab firman Tuhan itu bukan hanya untuk didengar, tetapi untuk ditaati, dan dari ketaatan itulah terlihat apakah seseorang sungguh hidup di dalam kebenaran atau hanya berada di sekitarnya (Yak 1:25; Yoh 14:23).
“Jika Kita Mencari Kristus Demi Apa yang Dapat Ia Berikan, dan Bukan Karena Siapa Dia Adanya, maka Sesungguhnya Kita Tidak Mencari Kristus Sama Sekali.”
— A.W. Pink —
