Wahyu 2 : 4
“Walaupun demikian, Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula.”
Salah satu ciri mahluk hidup ialah, dapat bergerak aktif. Tapi……… tidak semua yang bergerak itu, adalah mahluk hidup. Contoh seperti Robot. Robot bisa aktif bergerak walaupun dia tidak mempunyai jiwa. Dia bisa melakukan aktifitas seperti manusia seperti berjalan, menari, mengangkat atau mengambil sesuatu atau memindahkan barang-barang dan sebagainya. Namun Robot bukan mahluk hidup yang mempunyai jiwa. Robot tetap robot, tidak ada kehidupan dalam sebuah robot.
Dalam renungan ini, kita bisa melihat Jemaat di Efesus dalam Wahyu 2 : 4.
Mereka giat mengiring Tuhan, mereka mau bersabar dalam penderitaan dan tidak lelah dalam melayani. Namun demikian Tuhan mengatakan, bahwa Tuhan mencela mereka. Apa sebabnya sampai Tuhan mencela Jemaat di Efesus seperti itu?
Penyebabnya, ialah mereka didapati telah meninggalkan kasihnya yang mula-mula kepada Tuhan. Di mata Tuhan, Jemaat di Efesus terlihat tidak ubahnya seperti robot. Mereka bergerak aktif untuk Tuhan, tetapi tidak ada tanda-tanda kehidupan rohani di dalam diri mereka. Mereka melakukan banyak hal untuk Tuhan, tapi tidak didasari atas kasih Tuhan. Tidak ada kerinduan untuk menyenangkan hati Tuhan seperti tempo dulu waktu mereka masih hidup dalam kasih mula-mula. Tanpa kasih mula-mula, rohani jemaat tersebut didapati telah mati, karena semua aktifitas dikendalikan oleh kebiasaan atau rutinitas sehari-hari.
Tuhan memperingatkan Jemaat di Efesus, bahwa mereka telah begitu dalam terjatuh. Mereka harus bertobat dan melakukan lagi apa yang semula mereka lakukan. Peringatan serupa juga Tuhan berikan pada kita, jangan sampai kita didapati seperti robot–bergerak aktif, tetapi tidak terlihat adanya tanda kehidupan rohani. Kenakan kembali kasih yang mula-mula. Hendaklah mengiring Tuhan dan melakukan pekerjaan-Nya. Lakukan dengan kehidupan rohani yang dipenuhi kasih seperti waktu kita mula-mula mengenal-Nya. Kasih mula-mula kepada Tuhan adalah langkah awal kita dalam pengiringan kita kepada-Nya, tetapi bukan jaminan kita mendapat keselamatan kekal kalau dalam perjalanan iman kita goyah dan tidak ada kasih mula-mula. Memiliki kembali kasih mula-mula itu penting, karena itu akan menjadi ‘api’ yang membawa kita pada langkah terakhir dalam pengiringan kita kepada Tuhan. Dan itulah yang menentukan kita kepada hidup yang kekal. Tuhan Yesus memberkati. Amien.
Kasih Mula-mula adalah Bahan Bakar ‘Api’ yang Tak Pernah Padam,
Jagalah Api itu Tetap Berkobar Dalam Hati.