4 GELAR KRISTUS SEBAGAI TERANG DI TENGAH KEGELAPAN DUNIA

📖 Yesaya 9:5
“Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai”

Berita utama Harian Kompas pada penutupan tahun 2025 yaitu tanggal 31 Desember 2025 dengan judul Selamat Tinggal Tahun yang Berat memberikan refleksi bahwa selama tahun 2025 lalu, sebanyak 44 persen berita utama di Harian Kompas bersentimen negatif, 33 persen netral dan 23 persen positif. Tajuk utama Harian Kompas tersebut merefleksikan kondisi Indonesia yang sarat dengan nuansa kecemasan. Dari sisi topik, isu ekonomi menempati porsi terbesar muncul dengan 24,2 persen, diikuti politik sebesar 20,1 persen dan isu internasional sebesar 16,2 persen. Topik lain seperti hukum, kebencanaan, sosial, pendidikan, olahraga, seni dan budaya, serta gaya hidup masing-masing memiliki porsi di bawah 10 persen. Akan tetapi isu kriminalitas dan bencana meski jarang muncul namun secara umum cenderung bernada negatif, beberapa topik lain juga menunjukkan dominasi sentimen negatif dibandingkan sentimen positif dan netral.

Yesaya 9:5 merupakan penglihatan Nabi Yesaya sekitar 700 tahun sebelum Kristus lahir, sering kita dengar melalui khotbah pada saat Natal, simply karena perikop ini membicarakan kedatangan Sang Anak dan segala jabatan-Nya. Namun apa makna penglihatan ini bagi Nabi Yesaya dan bagi kita sekarang khususnya saat baru saja memasuki tahun 2026? Apa signifikansi kedatangan Sang Anak baik di dalam keseharian kita maupun dengan kondisi dunia saat ini? 

Yesaya menubuatkan kelahiran Mesias di tengah bangsa yang hidup dalam kegelapan,* Bangsa yang berjalan di dalam kegelapan telah melihat terang yang besar; mereka yang diam di negeri kekelaman, atasnya terang telah bersinar. (Yesaya 9:1). Kegelapan itu bukan hanya soal dosa pribadi, tetapi juga ketidakadilan sosial, penindasan politik, ketidakpastian ekonomi dan ketakutan kolektif bangsa. Seperti Natal tahun ini hadir di tengah negeri yang sedang lelah. Bencana datang silih berganti, ekonomi menekan banyak keluarga, PHK terjadi tanpa banyak peringatan, sementara korupsi, kolusi, dan nepotisme terus menggerogoti rasa keadilan. Hukum kerap terasa lentur dan bisa dipermainkan, dan di saat yang sama keadaan global pun tidak memberi rasa aman. Banyak orang merayakan Natal dengan terang lampu dan lagu, tetapi menyimpan kecemasan yang dalam tentang masa depan. Harapan terasa rapuh, bukan karena iman kurang, melainkan karena realitas hidup terlalu keras untuk diabaikan.

Dalam situasi seperti itulah nubuat Yesaya 9 pertama kali diucapkan. Bangsa Israel hidup di bawah ancaman kekuasaan Asyur, ketidak-adilan merajalela, dan kepemimpinan manusia gagal memberi rasa aman. Masa depan politik dan sosial mereka gelap. Justru di tengah kegelapan itu Yesaya menubuatkan kelahiran seorang Anak yang akan memikul pemerintahan di atas bahu-Nya. Gelar-gelar yang diberikan bukan hiasan rohani, melainkan pernyataan iman di tengah krisis: Allah belum menyerah pada dunia yang rusak. Ada empat gelar/sebutan yang diperkenalkan oleh Yesaya yang menandai tugas Yesus Kristus yaitu:

1. PENASIHAT AJAIB. Ibrani: Pele’ Yo‘etz

Kata pele’ berarti “ajaib, melampaui logika manusia.” Dipakai untuk karya Allah yang tak bisa direkayasa manusia. Yo‘etz berarti “penasihat yang merancang dengan hikmat.”

Kristus bukan sekadar pemberi saran rohani. Ia sumber hikmat itu sendiri. Ia tidak hanya tahu jalan—Ia adalah Jalan.

Kita sering datang kepada Tuhan seperti datang ke Google: cari jawaban cepat. Tapi Kristus bukan mesin pencari. Ia Pembentuk hati. Hikmat itu adalah Yesus Kristus. Hanya imanlah yang dapat melihat Kristus sebagai hikmat Allah. Hal ini dapat dilihat dalam 1 Korintus 1:24, “Tetapi untuk mereka yang dipanggil, baik orang Yahudi, maupun orang bukan Yahudi, Kristus adalah kekuatan Allah dan hikmat Allah.” Ada lagi dalam 1 Korintus 1:30, “Tetapi oleh Dia kamu berada dalam Kristus Yesus, yang oleh Allah telah menjadi hikmat bagi kita. Ia membenarkan dan menguduskan dan menebus kita.”_

“Kristus bukan hanya memiliki hikmat dalam diri-Nya; Ia sendiri adalah hikmat itu bagi kita.” — Thomas Goodwin

Masalahnya apakah kita mau dinasihati Kristus jika nasihat-Nya bertentangan dengan keinginan kita sendiri?

2. ALLAH YANG PERKASA. Ibrani: El Gibbor

El= Allah sejati. Gibbor = pahlawan perang, kuat, penakluk.

Ini bukan metafora lembut. Ini pengakuan keilahian Kristus. Bayi di palungan itu adalah Allah yang menaklukkan dosa, maut, dan kuasa gelap.

Dunia butuh motivator. Manusia berdosa butuh Penakluk.

“Di dalam Kristus ada kasih dan belas kasihan yang jauh lebih besar daripada seluruh dosa kita.” — Richard Sibbes. 

Kristus perkasa bukan untuk menindas, tapi untuk menyelamatkan yang tak berdaya.

Jika Dia hanya guru moral, kita masih terhilang. Karena dosa tidak butuh ceramah—dosa butuh dikalahkan.

3. BAPA YANG KEKAL. Ibrani: Avi ‘Ad

Ini sering disalah-pahami. Yesaya tidak sedang mencampur-adukkan Pribadi Tritunggal. Maknanya: Kristus adalah Sumber kehidupan yang memelihara umat-Nya terus-menerus. ‘Ad berarti “selamanya, tanpa akhir.”

Pemimpin manusia habis masa jabatannya. Kasih Kristus tidak pernah pensiun.

“Kasih Kristus tidak pernah lelah dan tidak pernah berakhir.” — John Flavel. 

Banyak orang punya luka dari figur ayah. Injil tidak menutupinya. Injil menawarkan Bapa yang tidak pergi meninggalkan kita, tidak lalai, dan tidak gagal.

4. RAJA DAMAI. Ibrani: Sar Shalom.

Sar = penguasa, pemimpin tertinggi. Shalom = bukan sekadar damai tanpa konflik, tetapi keutuhan, pemulihan, harmoni dengan Allah.

Kristus tidak datang membawa damai palsu yang menutup mata terhadap dosa. Ia membawa damai melalui salib—setelah keadilan ditegakkan.

Damai tanpa kebenaran adalah ilusi. Damai Kristus lahir dari pendamaian dengan Allah.

“Damai dengan Allah adalah akarnya; damai di dalam hati nurani adalah buahnya.” — Thomas Watson. 

Jika hatimu gelisah terus, mungkin bukan karena hidupmu kurang doa, tapi karena ada area yang belum mau tunduk pada Raja ini. Kristus bukan sekadar dikagumi, tapi ditaati. Bukan hanya direnungkan, tapi diikuti. Pada hari-hari ini sering kita mendengar orang yang mengalami tekanan hidup, stres, bahkan ada yang sampai bundir (bunuh diri). Bunuh diri sudah menjadi trend termasuk di kalangan anak muda. Hal ini dikarenakan kebanyakan mereka berfokus pada situasi dan kondisi yang ada, bukan memandang kepada Tuhan.

Di tengah kebingungan, Ia menjadi Penasihat.
Dalam ketidakberdayaan, Ia tampil sebagai Yang Perkasa.
Saat semua yang lain pergi, Ia tetap Bapa yang Kekal.
Dan ketika jiwa gelisah, Ia menawarkan damai yang sejati.

Yesaya 9:5
bukan Hanya Nubuat tentang Kelahiran Yesus, tetapi Kabar Sukacita Universal tentang Allah yang Senantiasa Bersama Umat-Nya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *