ADUH… SAKIT TUHAN!

Yeremia 18:3-4

“Maka pergilah Aku ke rumah tukang periuk dan Kulihat dia sedang bekerja dengan pelarikan. Apabila periuk yang sedang dikerjakannya itu kurang sempurna, ia mengerjakannya kembali menjadi periuk yang lain sesuai dengan yang dikehendakinya.”

Suatu ketika Tuhan berfirman kepada nabi Yeremia untuk pergi ke rumah seorang penjunan (tukang periuk) dan melihat bagaimana penjunan itu bekerja dengan tanah liat di tangannya. Saat itu Yeremia melihat bagaimana sang penjunan membentuk sebuah bejana yang indah meskipun hasil itu diperoleh melalui proses yang berulang-ulang. Tuhan ingin menyadarkan Yeremia bahwa seperti tanah liat di tangan sang penjunan, demikian jugalah Tuhan membentuk umat-Nya sehingga mereka menjadi seperti yang Ia kehendaki.

Sama seperti yang dilihat oleh Yeremia, kita juga dapat merefleksikan kehidupan kita ini seperti tanah liat yang sedang dibentuk oleh Tuhan untuk menjadi bejana yang indah. Ada berbagai cara Tuhan membentuk kita sebagai anak-anakNya: melalui sakit penyakit yang tidak kunjung sembuh, kesulitan hidup yang datang bertubi-tubi, orang-orang bermasalah yang Tuhan tempatkan disekitar kita dan berbagai situasi lain. Semua itu dapat dipakai Tuhan untuk membentuk kita agar kita memiliki karakter yang indah.

Jika Tuhan menjadi Penjunan dalam hidup kita, apa yang menjadi bagian kita? Bagian kita adalah merelakan diri untuk dibentuk oleh Tuhan dan mengijinkan Dia untuk memproses kita seturut kehendakNya. Sehingga melalui pembentukanNya itu, sifat-sifat buruk yang masih kita miliki seperti: sifat egois, sombong, tidak mau mengalah, suka menunda, pemarah, pelit dan banyak hal lain, akan terkikis. Ibarat tanah liat yang memiliki banyak batu & kotoran, kita harus mengijinkan Tuhan membuang hal-hal buruk itu agar Tuhan dapat membentuk kita seperti yang Ia kehendaki.

Memang pada saat pembentukan itu dilakukan, kita tidak merasa enak. Terkadang ketika Tuhan sebagai Penjunan Agung memproses kita, kita protes “Aduh… sakit Tuhan!!”. karena pembentukan Tuhan itu mengusik ego dan zona nyaman kita. Namun dibalik semua rasa sakit itu kelak kita akan melihat hidup kita yang semakin indah – baik di hadapan Tuhan maupun sesama. Oleh karena itu, kalau saat ini kita masih dalam proses pembentukanNya, ijinkan Tuhan untuk berkarya sepenuhnya dalam hidup kita sampai kita menjadi bejana seperti yang dikehendakiNya. Amin.

Rasa sakit akibat pembentukan Tuhan, tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan
keindahan yang akan terlihat dalam hidup kita melalui pembentukan itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *