UJILAH AKU, TUHAN

📖

Amsal 16:2
“Segala jalan orang adalah bersih menurut pandangannya sendiri, tetapi Tuhanlah yang menguji hati.”

Kata “menguji” dalam bahasa Ibrani diterjemahkan dari kata בָּחַן (takan), yang berarti menyelidiki secara mendalam, menguji dengan api, atau memurnikan seperti logam. Artinya, Tuhan tidak hanya melihat apa yang tampak di luar, tetapi Ia “memanaskan” hati manusia hingga yang tersembunyi pun terungkap (motivasi, niat, dan kepalsuan).

Manusia bisa menipu sesamanya dengan wajah saleh, kata-kata rohani, atau ritual religius, tetapi di hadapan Allah tidak ada topeng yang mampu bertahan. Tuhan tidak tertarik pada performa religius, tetapi pada kemurnian hati yang sejati.

Yesus sendiri mengkritik keras orang Farisi, mereka ahli dalam hukum Taurat, tetapi hatinya jauh dari Allah, lihat Matius 15:8: “Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku.”

Teologi sejati bukan sekadar sistem doktrin, melainkan pengenalan akan Allah yang menembus batin manusia. Seorang teolog sejati bukan hanya tahu tentang Allah, tetapi juga dikenal oleh Allah: “Tetapi orang yang mengasihi Allah, ia dikenal oleh Allah” (1 Korintus 8:3). Ketika hati kita transparan di hadapan Tuhan, barulah kita benar-benar mengenal arti takut akan Dia, bukan takut karena ancaman, tetapi takut karena kagum akan kekudusan-Nya yang menelanjangi kepalsuan.

Banyak orang Kristen hari-hari ini berani berdebat soal kebenaran, hafal doktrin, melahap kotbah teologi, bahkan mampu membantah ajaran sesat dengan argumentasi tajam. Tetapi ironisnya—hidup mereka jauh dari Jalan yang diajarkan Kristus, dan miskin dalam Kehidupan yang memuliakan Tuhan. Mereka sibuk dengan wacana, tapi lupa masalah paling penting: ketaatan.

Yesus berkata, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup” (Yohanes 14:6). Perhatikan urutannya: jalan dulu, lalu kebenaran, baru kehidupan. Tetapi banyak orang Kristen membalik urutan ini: mengejar pengetahuan tentang kebenaran, tetapi tidak sungguh-sungguh berjalan di jalan Kristus. Hasilnya? Kehidupan rohani tanpa buah—keras dalam teori, lemah dalam ketaatan, dan miskin dalam karakter. Kata Yunani “jalan” di Yohanes 14:6 adalah hodos yang berarti cara hidup, pola langkah, arah moral—bukan sekadar rute. Sedangkan “kebenaran” adalah alētheia yang berarti realitas yang sejati dari Allah, bukan sekadar informasi teologis. Dan “hidup” adalah zoē—kehidupan ilahi yang mengalir dari Allah. Artinya, Yesus bukan hanya memberikan ajaran benar untuk dihafal, tapi jalan hidup untuk diikuti dan kehidupan baru untuk dijalani.

Dalam kekristenan modern, banyak orang: rajin ibadah, tapi tetap kompromi dalam dosa. Punya banyak ayat di mulut, tapi sedikit buah Roh dalam karakter. Aktif pelayanan, tapi busuk di dalam rumah dan keluarga. Gagah di mimbar, tapi rapuh dalam integritas pribadi. Di sebuah gereja ada seorang pelayan gereja yang setia hadir setiap minggu, rajin melayani, dan disegani jemaat. Namun di balik layar, ia memelihara kebencian dan iri hati terhadap rekan pelayan lain. Di mata manusia, ia tampak rohani. Tetapi di hadapan Tuhan, hati yang pahit adalah ibadah yang rusak.

Masalahnya bukan kurang pengetahuan—tapi kurang ketaatan. Kekristenan tidak berhenti pada kata percaya, tetapi harus diwujudkan dalam kata mengikut.* Injil bukan bahan diskusi teologis belaka— Injil adalah panggilan untuk mati setiap hari bagi diri dan hidup bagi Kristus. Kebenaran tanpa ketaatan = kesombongan rohani. Pengakuan tanpa perubahan hidup = kemunafikan. Pelayanan tanpa kekudusan = kebohongan religius. Tidak heran Yesus berkata: “Mengapa kamu berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, padahal kamu tidak melakukan apa yang Aku katakan?” (Lukas 6:46).

Yesus tidak mencari ahli Alkitab, Yesus tidak mencari aktivis gereja, Yesus mencari murid yang taat. Ketika Tuhan mengizinkan konflik, kegagalan, atau kejatuhan moral, sering kali itu bukan sekadar hukuman, melainkan proses “pembakaran” rohani, supaya yang palsu lenyap dan yang murni tetap. Allah tidak dapat ditipu. Kita hanya bisa datang dengan hati yang terbuka dan berkata: “Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku.” (Mazmur 139:23)

TAKUTLAH AKAN DIA — BUKAN DENGAN KETAKUTAN DUNIAWI,
TETAPI DENGAN GENTAR YANG KUDUS — KARENA IA MELIHAT HINGGA KEDALAMAN HATI.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *