Pelayanan sejati bukanlah tentang posisi yang kita miliki, tetapi tentang hati yang kita miliki. Banyak orang ingin dikenal sebagai pelayan yang hebat, berbagai jabatan penting. Namun di hadapan Allah, ukuran sejati bukanlah seberapa tinggi jabatan kita, melainkan seberapa dalam kasih dan kebenaran kita terhadap sesama. Tuhan Yesus tidak datang untuk mencari kedudukan, tetapi untuk melayani dengan hati yang rendah. Ia berkata, “…Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu.” (Markus 10:43). Artinya, kebesaran dalam Kerajaan Allah diukur dari cara kita memperlakukan orang lain.
Ada banyak orang yang sibuk dalam pelayanan, tetapi lupa mempraktikkan kasih dalam keseharian. Mereka bisa aktif berbagai pelayanan, tapi tidak mengekspresikan kasih Bapa; pandai berkata tentang kasih, tetapi sulit memaafkan. Padahal, Firman Tuhan berkata, Jikalau seseorang berkata: “Aku mengasihi Allah,” tetapi ia membenci saudaranya, ia adalah pendusta…” (1 Yohanes 4:20–TB2). Allah tidak mencari pelayan yang hanya fasih berbicara, tetapi pelayan yang hidupnya menjadi kesaksian nyata dari kebenaran Firman. Hidup yang benar penuh kasih, rendah hati, dan murah hati lebih berharga daripada seribu pelayanan yang hanya mengangkat nama diri sendiri.
Pelayanan tanpa karakter adalah seperti pelita tanpa minyak. Mungkin menyala sekejap, tetapi tidak akan bertahan lama.
Ketika kita memperlakukan orang lain dengan kasih dan kelembutan, sesungguhnya kita sedang memperlihatkan Kristus di dalam diri kita. Tuhan tidak pernah menilai dari jabatan, gelar, atau popularitas pelayanan, tetapi dari hati yang taat dan tulus. Itulah sebabnya, lebih baik menjadi pelayan yang sederhana, nampak tidak terlihat namun dapat dirasakan kehadirannya, daripada pelayan Tuhan yang tampaknya hebat tetapi lupa mempraktikkan kasih dalam hidupnya. Karena di mata Tuhan, kesetiaan dalam hal kecil sering lebih besar nilainya daripada jabatan yang tanpa karakter Kristus.
Marilah kita belajar dari Yesus, yang walaupun adalah Tuhan, Ia rela membasuh kaki murid-murid-Nya. Ia menunjukkan bahwa kuasa sejati bukanlah memerintah, melainkan melayani. Maka, jika kita ingin hidup berkenan kepada Allah, biarlah kita memperlakukan setiap orang dengan kasih, menghargai mereka sebagaimana Kristus menghargai kita. Sebab pada akhirnya, bukan jabatan yang akan mengantar kita ke surga, tetapi hati yang benar dan hidup yang berjalan dalam kebenaran Firman. Ia telah memberitahu kepada kita: “Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut TUHAN dari padamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?” (Mikha 6:8). Amin.
Quotes: Tuhan Tidak Mencari Orang yang Pandai Berbicara Tentang Kasih, Tetapi Mereka yang Hidupnya Menjadi Bukti Kasih itu Sendiri.