II Raja-raja 7:2 (TB)
“Tetapi perwira, yang menjadi ajudan raja, menjawab abdi Allah, katanya: “Sekalipun TUHAN membuat tingkap-tingkap di langit, masakan hal itu mungkin terjadi?”Jawab abdi Allah: “Sesungguhnya, engkau akan melihatnya dengan matamu sendiri, tetapi tidak akan makan apa-apa dari padanya.”
Respons perwira itu adalah representasi klasik dari keraguan yang didasarkan pada logika manusia. Ia melihat kondisi fisik kota yang terkepung—harga makanan yang tak masuk akal, kelaparan yang menyebabkan kanibalisme—dan menyimpulkan bahwa bantuan yang dijanjikan Tuhan mustahil. Bagi perwira, satu-satunya cara Tuhan dapat menolong adalah dengan cara yang melawan hukum alam (“membuat tingkap-tingkap di langit”), dan ia tidak percaya Tuhan akan melakukannya.
Sering kali, ketika kita menghadapi “pengepungan” dalam hidup—kesulitan finansial, penyakit kronis, atau masalah keluarga—kita juga terperangkap oleh logika sempit kita sendiri. Kita hanya melihat fakta di depan mata dan gagal melihat potensi intervensi Tuhan yang supranatural. Kita membatasi kuasa-Nya pada apa yang kita anggap “mungkin.”
Konsekuensi dari Ketidakpercayaan,
Elisa memberi perwira itu sebuah peringatan keras: Ia akan melihat penggenapan janji Tuhan, tetapi tidak akan menikmatinya. Ini adalah ironi yang tragis. Perwira itu hidup untuk menyaksikan mukjizat: Tentara Aram lari, perbekalan melimpah, dan harga-harga turun drastis (2 Raja-raja 7:16). Namun, karena ketidak- percayaannya, ia diinjak-injak sampai mati di pintu gerbang oleh orang banyak yang bergegas untuk menjarah makanan (2 Raja-raja 7:17-20).
Kisah ini adalah pelajaran yang menyakitkan: Keraguan dapat menghalangi kita menikmati berkat yang sudah Tuhan sediakan. Tuhan tetap memenuhi janji-Nya, tetapi kurangnya iman kita mencegah kita untuk mengambil bagian di dalamnya. Jangan biarkan logika kita memadamkan iman kita. Amen
Iman Bukanlah Keyakinan Bahwa Tuhan Akan Melakukan Sesuatu,
Melainkan Keyakinan Bahwa Tuhan Bisa Melakukan Apa Saja.