Filipi 3:7
“Tetapi yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus.”
Seorang pelajar/siswa rela belajar sampai jauh malam, demi mendapatkan nilai ujian yang terbaik. Seorang olah ragawan atau pemain bulu tangkis rela berlatih dan menghabiskan waktu berjam-jam dan melakukan latihan berat, agar kelak bisa menjadi juara. Dalam Alkitab, ada seorang wanita yang bernama Hana berdoa terus-menerus sampai seorang imam Eli menganggap Hana mabuk anggur, untuk mendapatkan seorang anak. Abraham rela mengorbankan/mempersembahkan anak semata wayangnya Ishak, demi ketaatannya kepada Allah. Setiap kerelaan didasari oleh tujuan. Demi mencapai tujuan, seseorang rela mengorbankan sesuatu yang bernilai besar.
Begitu pula yang terjadi pada kehidupan Rasul Paulus, ia yang seorang Farisi dan Ahli Taurat yang sudah punya kedudukan tinggi, rela meninggalkan kedudukannya/pencapaiannya demi menjadi pengikut Kristus. Karena tujuannya adalah Yesus, segala hal lain di luar Yesus rela ia korbankan. Yang dahulu dipandang sebagai keuntungan, kini dianggap kerugian layaknya sampah. Bukan perjuangan yang mudah untuk meninggalkan kejayaan masa lalu. Bukankah tidak sedikit orang yang gemar menceritakan/bernostalgia secara berulang pencapaian yang pernah mereka dapatkan? Padahal, tujuan hidup pribadi yang berani mengaku beriman, mestinya adalah Tuhan Yesus Kristus, bukan yang lain.
Karena itu, segala hal diluar Dia, yang bersifat jasmani/kedagingan, tidak lebih dari sekadar sarana. Meminjam istilah Rasul Paulus bahwa segala sesuatu yang bersifat kedagingan adalah “sampah“. Sampah bisa digunakan sebagai pupuk, tetapi bukan itu tujuan yang diharapkan untuk dituai. Inilah pentingnya mengintropeksi diri, agar tidak salah menentukan tujuan. Supaya kita tidak hanya mengumpulkan sampah, melainkan harta sorgawi yang bernilai kekal dalam perkenanan Tuhan. Amin
Tuhan Yesus Kristus Haruslah Menjadi Tujuan Hidup Kita.
Ia adalah Harta Sorgawi yang Bernilai Sampai di Kekekalan.