KETAATAN LEBIH PENTING DARI NIAT BAIK

I Tawarikh 13:10 (TB)

 “Maka bangkitlah murka TUHAN terhadap Uza, lalu Ia membunuh dia oleh karena Uza telah mengulurkan tangannya kepada tabut itu; ia mati di sana di hadapan Allah.”

Banyak orang berpikir bahwa asal niatnya baik, Tuhan pasti berkenan. Namun, kisah Uza dalam 1 Tawarikh 13 membuktikan bahwa niat baik tidak cukup di hadapan Allah yang kudus. Uza bermaksud menahan tabut agar tidak jatuh, tetapi ia melanggar aturan Allah yang sangat jelas: tabut tidak boleh disentuh (Bilangan 4:15). Sekejap saja, murka Allah menghentikan hidupnya.

Peristiwa ini bukan sekadar hukuman atas Uza, melainkan peringatan keras bagi seluruh umat Israel — dan juga kita hari ini. Allah ingin menegaskan bahwa Ia adalah kudus, dan hal-hal kudus tidak boleh diperlakukan sembarangan. Daud sendiri sampai marah dan takut, menyadari betapa seriusnya Allah dalam menegakkan kekudusan-Nya.

Kisah ini mengajar kita untuk tidak mengganti ketaatan dengan alasan niat baik. Dalam pelayanan, ibadah, dan kehidupan sehari-hari, kita sering berpikir “yang penting tulus,” padahal Tuhan menuntut kita berjalan dalam kebenaran firman-Nya. Niat baik tanpa ketaatan bisa berakhir salah, bahkan fatal. Sebaliknya, ketika kita taat kepada firman, meski kelihatannya sulit atau tidak masuk akal, kita sedang menghormati Allah dengan cara yang benar. Renungan ini juga mengingatkan bahwa kekudusan Allah selalu berjalan seiring dengan kasih-Nya. Sesudah peristiwa Uza, tabut ditempatkan di rumah Obed-Edom, dan justru rumah itu diberkati. Allah tidak hanya menghukum, tetapi juga melimpahkan berkat bagi yang menghormati hadirat-Nya.

Niat Baik Tanpa Ketaatan Bisa Membawa Celaka;
Tetapi Ketaatan Kepada Firman Selalu Mendatangkan Berkat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *