Dengan bertobat dan tinggal diam kamu akan diselamatkan, dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu.
(Yesaya 30:15)
Dikisahkan, seorang pendaki sedang menempuh perjalanan panjang melintasi jalur pegunungan yang asing baginya. Medan pendakian itu cukup berat, ditambah lagi cuaca yang berubah-ubah dan tanda penunjuk jalan mulai jarang terlihat.
Saat hari menjelang gelap, ia tiba di sebuah persimpangan. Di depannya terbentang dua jalan: satu menanjak dan tampak lebih cepat tapi licin, sedangkan satunya lagi menurun dan lebih lebar namun tidak jelas ke mana mengarah.
Suara angin menderu, kabut mulai turun dan tubuhnya lelah. Pikirannya ingin segera memilih salah satu jalan dan terus bergerak mengingat waktu terus berjalan. Ia hampir melangkah ke jalan menurun karena tampak lebih mudah, tetapi langkahnya tertahan. Sesaat ia duduk di batu untuk menarik napas dalam-dalam, dan memejamkan mata. Ia mencoba menenangkan pikirannya. Di tengah kesunyian, ia mendengar gemericik air dari kejauhan dan samar-samar ada suara ranting patah terinjak, tanda ada jalur yang biasa dan sedang dilewati orang. Ia mulai memperhatikan sekitarnya dan menemukan jejak samar di tanah, sesuatu yang sebelumnya luput karena pikirannya terlalu tergesa-gesa.
Beberapa menit kemudian, setelah kabut sedikit menipis dan cahaya matahari senja memberi sedikit kejelasan. Ia melihat tanda panah kecil di sebuah batu yang menunjukkan arah ke atas, ke jalur yang tampak lebih sulit. Tapi kini ia yakin, bahwa itulah jalur yang benar. Ia melanjutkan perjalanan dan akhirnya tiba di tempat peristirahatan aman yang dituju oleh para pendaki. Di sanalah ia menyadari: jika tadi ia langsung memilih jalan yang tampak lebih mudah, bisa jadi malam itu ia akan tersesat tanpa arah.
Dalam hidup ini, kita sering dihadapkan pada “persimpangan”. Ada berbagai keputusan yang harus kita ambil: pindah kerja atau bertahan, memulai hubungan pertemanan atau menjaga jarak, dalam bidang usaha, apakah ini saatnya melangkah maju atau menunggu. Di saat-saat seperti itu, kita sering tergoda untuk segera memutuskan karena takut tertinggal, takut kehilangan kesempatan, atau sekadar karena ingin segera keluar dari ketidakpastian.
Namun, Firman Tuhan mengajarkan untuk kita tinggal diam dan percaya. Sikap diam bukanlah tanda lemah, karena dalam sikap diam, kita memberi “ruang” bagi Tuhan untuk berbicara. Dalam sikap tenang dan berdiam, kita dapat membuka hati untuk mendengar sapaan Tuhan yang lembut dengan jernih ditengah hiruk pikuknya suara kegelisahan atau pengaruh dari luar yang membombardir pikiran kita. Keputusan yang diambil dalam keheningan bersama Tuhan sering kali jauh lebih tepat daripada keputusan yang diambil dalam kepanikan.
Dalam situasi sulit, sikap panik dan tergesa-gesa dapat membuat kita mengambil keputusan yang keliru. Justru dengan berdiam sejenak dan menenangkan hati, kita bisa melihat lebih jelas dan mengambil langkah yang tepat. Berdiam diri bukan berarti pasrah atau tidak bertindak (pasif). Justru, berdiam diri adalah bentuk ketaatan dan bijak menanti tuntunan Tuhan. Ini berarti kita tidak bertindak berdasarkan dorongan hati yang gelisah, namun memilih untuk menunggu saat Tuhan memberi terang. Amin.
Keputusan yang diambil dalam keheningan bersama Tuhan sering kali jauh lebih tepat daripada keputusan yang diambil dalam kepanikan.